Luruskan Konsep Integrasi Ilmu, Wamenag RI Usul Redefinisi Pendidikan Islam di UIN Bandung
HARIANGARUT.NEWS - Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menggelar kegiatan Kuliah Umum bagi mahasiswa baru Fakultas Sains dan Teknologi (FST) dengan fokus utama memperkuat pemahaman integrasi keilmuan, Kamis (03/09/2026).
Hadir dalam acara, Wakil Menteri Agama RI, Dr. KH. Romo H.R. Muhammad Syafi'i, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Prof. Dr. Hj. Hasniah Aliah, M.Si (Dekan Fakultas Sains dan Teknologi) beserta jajaran dan tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Wakil Menteri Agama RI, Dr. KH. Romo H.R. Muhammad Syafi'i, menegaskan pentingnya meluruskan pemahaman mengenai integrasi ilmu agama dan sains di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Ia menekankan bahwa integrasi keilmuan tidak semestinya dipahami dengan mempertentangkan ilmu agama dan ilmu umum.

"Tentunya kita mendorong redefinisi pendidikan Islam yang mampu menghilangkan sekat antar disiplin keilmuan. Berbagai cabang ilmu seperti matematika, fisika, kimia, biologi, hingga kedokteran merupakan bagian dari ikhtiar manusia dalam memahami ciptaan Allah SWT. Prinsip al-'ilmu 'indallah menjadi salah satu landasan dalam memandang pengembangan ilmu pengetahuan," ungkapnya.
Wamenag juga mengimbau agar civitas akademika tidak lagi terjebak pada praktik "cocokologi" atau sekadar memaksakan pencocokan ayat Al-Qur'an dengan teori ilmiah yang sudah ada. Sebaliknya, kata dia, Al-Qur'an dan Sunnah harus dijadikan fondasi utama eksplorasi sains. Ia juga mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) untuk memperkuat peran strategisnya sebagai mitra pemerintah dalam memberikan dasar kajian akademis yang kuat sebelum suatu program nasional diluncurkan.

“Ini menjadi tantangan buat seluruh anak-anakku mahasiswa baru untuk ke depan bisa melihat bahwa ketika orang belajar matematika, sesungguhnya dia masih belajar salah satu cabang dari agama itu sendiri. Dia belajar fisika, dia belajar salah satu cabang dari agama itu sendiri. Dia belajar kedokteran, itu dia belajar agama. Dia belajar kimia, dia belajar agama. Kita enggak perlu ada upaya 'cocokologi'. Ya, mencocok-cocokkan ilmu-ilmu itu kemudian kita cari ayat-ayatnya, enggak! Kita langsung saja baca ayatnya," ujar Romo saat memberikan materi.
Wamenag juga menyampaikan optimismenya terhadap perkembangan FST UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pihaknya mengapresiasi peran para profesor dan akademisi yang terus mengembangkan fakultas secara menyeluruh sehingga setiap aspek keilmuan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
“Ini saya kira sangat saya apresiasi, dan saya yakin Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati akan semakin berkembang di tangan profesor yang profesional, ya, yang melihat fakultas ini sampai sekecil-kecilnya. Sehingga dia bisa tumbuh dengan lebih sempurna karena tidak ada celah-celah yang itu kemudian kosong," tandasnya.
Romo menilai cara pandang tersebut menjadi langkah penting dalam menghilangkan dikotomi antara Islam dan ilmu pengetahuan. Bahwa, kata dia, ilmu pengetahuan itu sendiri adalah bagian daripada ajaran Islam. Selain penguatan integrasi keilmuan, Wamenag berharap mahasiswa baru tidak hanya menjadi pengguna ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi mampu menghasilkan gagasan dan karya baru. Dirinya mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi follower, melainkan berkembang menjadi pencipta.

“Kita berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna, tapi pencipta. Jadi, mahasiswa tidak lagi hanya mencari sesuatu atau menjadi follower, dia harus menjadi yang menciptakannya,” pungkas Dr. KH. Romo H.R. Muhammad Syafi'i.
Paradigma tersebut sejalan dengan konsep “Wahyu Memandu Ilmu” yang dikembangkan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Melalui filosofi “Roda/Pedati Ilmu”, universitas menempatkan tauhid sebagai pusat dalam membangun interkoneksi berbagai disiplin ilmu. Bagi mahasiswa FST, paradigma ini menjadi landasan untuk mengembangkan sains dan teknologi dengan tetap berorientasi pada nilai-nilai keislaman dan kemaslahatan.
Memasuki usia ke-57 tahun, UIN Sunan Gunung Djati Bandung terus memperkuat kapasitas akademik dan kelembagaannya. Saat ini, universitas memiliki 104 Guru Besar serta tengah mempersiapkan pembukaan Fakultas Kedokteran dan mengoptimalkan fasilitas ma’had di wilayah Cileunyi.***(Bowo)